SERANG, UNIBADAILY.ID – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Bina Bangsa menyelenggarakan Seminar Nasional Pengabdian kepada Masyarakat (SENAPAS) dengan mengusung tema “Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Inovasi Pendidikan, Ekonomi Lokal, Sosial, Budaya, Lingkungan dan Tata Kelola Desa Menuju Desa Berdampak.”, Senin, (31/8/2026).
Kegiatan yang dilaksanakan di Auditorium UNIBA gedung D lantai 6 tersebut menjadi ruang akademik sekaligus forum kolaborasi untuk memperkuat peran perguruan tinggi dalam menghasilkan program pengabdian kepada masyarakat yang inovatif, relevan, berkelanjutan, dan mampu memberikan dampak nyata bagi pembangunan desa.
SENAPAS menempatkan desa sebagai ruang strategis bagi penerapan hasil penelitian, inovasi, dan kolaborasi perguruan tinggi. Melalui pendekatan lintas bidang, kegiatan ini menyoroti pentingnya pengembangan pendidikan masyarakat, penguatan ekonomi lokal, pemberdayaan sosial dan budaya, pelestarian lingkungan, serta peningkatan kualitas tata kelola desa.
Dalam sambutannya, Rektor Universitas Bina Bangsa Prof. Bambang Dwi Suseno, menyampaikan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab yang tidak hanya terbatas pada pendidikan dan penelitian, tetapi juga menghadirkan manfaat secara langsung bagi masyarakat melalui kegiatan pengabdian.
Menurutnya, perubahan kebutuhan masyarakat menuntut perguruan tinggi untuk menghadirkan model pengabdian yang semakin inovatif, kolaboratif, adaptif, dan berkelanjutan.
Rektor menekankan bahwa program pengabdian tidak seharusnya berhenti pada pelaksanaan kegiatan semata, tetapi harus mampu menghasilkan perubahan yang dapat dirasakan masyarakat. Perguruan tinggi perlu menjadi mitra strategis masyarakat dan pemerintah desa dalam mengidentifikasi permasalahan, menemukan potensi lokal, serta mengembangkan solusi berbasis ilmu pengetahuan dan inovasi.
Melalui SENAPAS, ia berharap muncul berbagai gagasan dan model pemberdayaan yang dapat direplikasi serta dikembangkan untuk membantu desa meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, kemandirian ekonomi, ketahanan sosial dan budaya, kualitas lingkungan, serta tata kelola pemerintahan.
“Semangat menuju desa berdampak harus dimaknai sebagai upaya menghadirkan pengabdian kepada masyarakat yang terukur manfaatnya, berkelanjutan, dan mampu mendorong kemandirian masyarakat. Perguruan tinggi harus hadir bukan hanya membawa program, tetapi membangun proses bersama masyarakat,” ujar Bambang.
Sementara itu, Ketua LPPM Universitas Bina Bangsa Encep Saefullah, menjelaskan bahwa penyelenggaraan SENAPAS merupakan bagian dari komitmen LPPM dalam memperkuat kualitas dan relevansi kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
SENAPAS diharapkan menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai hasil pengabdian, inovasi, praktik baik, dan gagasan dari berbagai disiplin ilmu agar dapat memberikan kontribusi terhadap penyelesaian persoalan masyarakat.
Ketua LPPM menyampaikan bahwa tema yang diangkat sengaja mencakup berbagai dimensi pembangunan desa, mulai dari pendidikan, ekonomi lokal, sosial, budaya, lingkungan hingga tata kelola. Hal tersebut karena pembangunan desa tidak dapat dilakukan melalui pendekatan satu sektor, melainkan membutuhkan keterhubungan antaraspek serta kolaborasi berbagai pihak.
Ia juga menegaskan pentingnya mengubah orientasi pengabdian dari sekadar berbasis kegiatan menjadi berbasis dampak. Keberhasilan program pengabdian perlu dilihat dari perubahan yang terjadi, seperti meningkatnya kapasitas masyarakat, berkembangnya potensi ekonomi, terciptanya inovasi lokal, menguatnya kelembagaan desa, hingga tumbuhnya kesadaran terhadap keberlanjutan lingkungan.
“Melalui SENAPAS, kami berharap lahir rekomendasi, inovasi, dan model pemberdayaan masyarakat yang dapat diimplementasikan secara nyata. LPPM juga ingin memperluas kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat dalam membangun desa yang mandiri dan berkelanjutan,” ungkap Encep.
Seminar nasional ini menghadirkan dua narasumber, yakni Sularso Budilaksono dari Direktur LPPM UPI Y.A.I Jakarta dan Rizky Abdillah Ramadhan sebagai Konsultan Manajemen yang mengupas pemberdayaan masyarakat dari berbagai perspektif.
Narasumber pertama, Sularso Budilaksono dari LPPM UPI Y.A.I Jakarta, memaparkan pentingnya peran perguruan tinggi dalam merancang pengabdian kepada masyarakat yang berbasis pada kebutuhan dan potensi lokal.
Ia menekankan bahwa keberhasilan program pengabdian tidak hanya ditentukan oleh inovasi yang ditawarkan, tetapi juga oleh kemampuan perguruan tinggi dalam membangun komunikasi, kolaborasi, dan partisipasi aktif bersama masyarakat.
“Pemetaan potensi desa, identifikasi persoalan secara tepat, serta keterlibatan berbagai pemangku kepentingan menjadi bagian penting agar program pemberdayaan dapat berlangsung secara berkelanjutan dan tidak berhenti setelah program selesai dilaksanakan”, tutur Sularso.

Sementara itu, narasumber kedua, Rizky Abdillah Ramadhan selaku Konsultan Manajemen, memberikan pandangan dari sisi tata kelola, pengembangan kapasitas, serta pentingnya manajemen program dalam mendukung keberhasilan pemberdayaan masyarakat.
Ia menggarisbawahi bahwa. “program pemberdayaan perlu memiliki perencanaan yang jelas, target yang terukur, pengelolaan sumber daya yang efektif, hingga mekanisme evaluasi agar manfaat program dapat terus dikembangkan”, jelas Rizky.
Menurutnya, penguatan tata kelola menjadi salah satu faktor penting dalam membangun desa yang adaptif terhadap perubahan sekaligus mampu mengoptimalkan potensi sumber daya yang dimiliki.Melalui penyelenggaraan SENAPAS, Universitas Bina Bangsa menegaskan komitmennya dalam menjalankan tridarma perguruan tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat yang berorientasi pada solusi dan keberlanjutan.

Forum ini diharapkan tidak hanya menghasilkan pertukaran pengetahuan dalam ruang seminar, tetapi juga membuka peluang kolaborasi baru, pengembangan program bersama, hilirisasi inovasi perguruan tinggi, serta penguatan jejaring pengabdian kepada masyarakat.
SENAPAS sekaligus menjadi momentum untuk mendorong perubahan paradigma pengabdian kepada masyarakat, dari kegiatan yang bersifat jangka pendek menuju proses pemberdayaan yang mampu meninggalkan manfaat jangka panjang.
Dengan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan, inovasi di bidang pendidikan, ekonomi lokal, sosial, budaya, lingkungan, dan tata kelola diharapkan dapat menjadi kekuatan dalam mewujudkan desa yang semakin mandiri, inovatif, berkelanjutan, dan berdampak bagi masyarakat.***