UNIBADAILY.ID, Serang – Dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional (HPN) 2026, Universitas Bina Bangsa (UNIBA) menjadi tuan rumah acara Seminar Nasional Jurnalistik yang bertajuk “Transformasi Jurnalisme Mahasiswa di Era Digital”.
Acara yang berlangsung di Auditorium UNIBA ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, termasuk Rektor UNIBA, Sekretaris HPN 2026, PWI Pusat, dua praktisi media terkemuka Antara dan Jawa Pos TV, serta ratusan mahasiswa dan perwakilan pers mahasiswa di UNIBA.
Rektor UNIBA, Prof. Bambang D Suseno, dalam sambutannya menekankan pentingnya tiga pilar yang saling melengkapi untuk menjawab tantangan jurnalistik di zaman digital: pertama, kedalaman berita; kedua, jurnalisme berbasis data; dan ketiga, kritik terhadap adopsi AI dalam praktik jurnalistik.
“Ketiga pilar ini bukan sekadar teori, melainkan jalan praktis bagi newsroom, institusi pendidikan, dan pembuat kebijakan,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan, disrupsi bukan semata ancaman, tetapi kesempatan untuk menciptakan peran baru sebagai peneliti narasi, analis data, dan penjaga publik sphere.
Sekretaris HPN Banten 2026, Dr. Ariawan, turut hadir dan memberikan wawasan tentang perkembangan dunia pers di tingkat lokal. Dalam sambutannya, Ariawan menyoroti pentingnya jurnalisme yang independen dan profesional di tengah derasnya arus informasi digital yang sering kali tidak terverifikasi.
“Saat ini, tantangan terbesar bagi pers adalah bagaimana menjaga kualitas dan integritas berita di tengah kemudahan akses informasi digital. Mahasiswa sebagai calon jurnalis harus dibekali dengan kemampuan mengolah informasi yang tidak hanya cepat, tetapi juga akurat dan berimbang,” ujarnya.
Kemudian, tiga narasumber dari kalangan praktisi media turut berbagi pengalaman dan perspektif mereka tentang perubahan lanskap jurnalisme.
Mereka adalah Beni Siga Butarbutar Direktur Utama Antara, Nana Sutisna General Manager Jawa Pos TV dan Ahmed Kurnia S dari PWI Pusat.
Beni Siga Butarbutar dari Antara mengungkapkan bahwa mahasiswa jurnalisme harus memanfaatkan platform digital dengan bijak, baik untuk melakukan riset maupun untuk menjangkau audiens yang lebih luas.
“Jurnalisme digital menawarkan kebebasan dan fleksibilitas yang lebih besar, namun di balik itu ada tanggung jawab besar dalam menyajikan informasi yang dapat dipercaya,” tegasnya.
Sementara itu, Nana Sutisna dari Jawa Pos TV memberikan paparan mendalam mengenai konvergensi media, yang kini menjadi tren utama dalam industri media.
“Konvergensi media memungkinkan berbagai platform media berinteraksi dan saling mendukung dalam memberikan informasi secara lebih cepat dan efisien. Ini adalah peluang besar bagi mahasiswa untuk berinovasi dalam jurnalisme,” Jelasnya.
Kemudian, dari PWI Pusat Ahmed Kurnia S, menekankan pentingnya mahasiswa sebagai agen perubahan yang memiliki peran besar dalam memberikan informasi yang jujur dan akurat, terutama di tengah pesatnya perkembangan media digital.
“Mahasiswa adalah calon jurnalis masa depan yang dihadapkan dengan tantangan besar. Mereka tidak hanya harus menguasai kemampuan menulis yang baik, tetapi juga memahami teknologi digital yang dapat mempercepat distribusi informasi ke masyarakat,” ujarnya.
Acara yang diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai mahasiswa memberikan kesempatan untuk berdiskusi langsung dengan narasumber serta mengajukan pertanyaan terkait isu-isu terkini dalam dunia jurnalisme.
Semuanya berbagi pengalaman tentang tantangan yang dihadapi oleh media dalam menghadapi perubahan cepat di dunia digital, serta pentingnya kolaborasi antara media dan pendidikan untuk mencetak jurnalis yang tidak hanya terampil, tetapi juga berintegritas.
Dengan tema yang relevan dan narasumber berkompeten, Hari Pers Nasional 2026 di Banten diharapkan dapat menjadi momentum bagi mahasiswa untuk lebih berperan aktif dalam transformasi jurnalisme di Indonesia, khususnya di dunia digital yang semakin berkembang pesat.
Acara tersebut menegaskan bahwa meskipun era digital menawarkan banyak kemudahan dalam proses pengumpulan dan penyebaran informasi, namun tantangan etika dan profesionalisme tetap menjadi hal utama dalam dunia jurnalisme, khususnya bagi mahasiswa yang ingin terjun ke dalam industri media.***