Muhammad Irfan Tegar Algifari
Mahasiswa Fakultas Hukum, Universitas Bina Bangsa
Setiap tanggal 10 November, bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan yang merupakan momen bersejarah dimana mengingatkan kita pada perjuangan dan pengorbanan para pejuang yang rela mempertaruhkan nyawa demi kemerdekaan. Namun, bagi kita sebagai mahasiswa masa kini, peringatan ini bukan hanya tentang mengenang masa lalu, melainkan juga tentang menemukan makna perjuangan dalam konteks kekinian.
Zaman memang telah berubah. Kita tidak lagi mengangkat senjata melawan penjajah, tetapi tantangan baru kini hadir dalam bentuk kebodohan, kemiskinan, korupsi, dan ketidakadilan sosial. Sebagai mahasiswa, perjuangan kita adalah melawan ketidakpedulian, ketika banyak yang memilih diam di tengah ketimpangan, dan melawan keputusasaan, saat idealisme mulai memudar oleh realita.
Hari Pahlawan seharusnya menjadi cermin bagi generasi muda untuk bertanya pada diri sendiri: apa kontribusiku untuk bangsa ini? Bagi mahasiswa hukum seperti saya, belajar bukan sekadar memahami pasal dan undang-undang, tetapi juga menumbuhkan kesadaran moral dan keadilan sosial. Kita harus berani bersuara ketika melihat ketidakadilan, berani berpikir kritis, dan berani bertindak jujur karena kejujuran adalah bentuk perjuangan yang langka di zaman sekarang.
Semangat juang para pahlawan mengajarkan kita bahwa perubahan besar selalu dimulai dari rasa cinta pada negeri dan tekad untuk berbuat sesuatu, sekecil apa pun. Di era digital ini, perjuangan bisa diwujudkan dengan menyebarkan informasi positif, menjaga integritas akademik, dan menolak segala bentuk intoleransi.
Hari Pahlawan adalah pengingat bahwa setiap generasi punya medan juangnya sendiri. Maka, mari kita isi kemerdekaan ini dengan karya, kepedulian, dan semangat belajar yang tak kenal lelah. Karena pada akhirnya, menjadi pahlawan masa kini tidak harus berperang di medan laga, cukup dengan berjuang untuk kebaikan dan keadilan di lingkungan kita sendiri.